Uang Sawit?

buah sawit“Masih saja ada yang gizi buruk dan mati karena lapar,” kata Smith pelan, bergumam seorang diri dalam ruang kantornya. Rambutnya yang putih menunjukkan usianya yang tak lagi muda. Ia adalah seorang penggiat sosial. Mensponsori beberapa LSM untuk mengkampanyekan kepeduliannya terhadap keadilan sosial. Kemana saja mereka, batin Smith. Diatas kertas publikasi mereka bagus, namun faktanya.. . Fuck, mudahnya mereka menerima uang sawit?

Smith cukup dikenal publik, utamanya dalam dunia pergerakan sosial. Diawali dari kecintaannya pada anak- anak. Ia sendiri tak punya anak. Hidup berdua saja dengan istrinya di Australi. Dari usia 4 th ia telah menjadi yatim piatu. Kedua orangtua meninggal dunia dalam sebuah insiden kecelakaan. Sementara ia adalah anak tunggal. Sejarah ini, mungkin yang menguatkan dirinya sebagai penggiat sosial, banyak menyoroti utamanya masalah anak dan kemiskinan.

Sepuluh tahun terakhir ini ia tampak aktif bersama beberapa organisasi gerakan Lingkungan Hidup untuk menentang ekspansi perkebunan kelapa sawit. Sawit menurutnya hanya menguntungkan para kapital, sementara kompensasi untuk kesejahteraan masyarakat sekitar tak juga ada. Bahkan fakta lainnya ia menemukan bahwa sawit melahirkan konflik- konflik sosial karena sengketa lahan. Ini adalah dampak dari kepiwaian mereka memanipulasi amdal.

Terkait dengan masalah sosial, surat ijin yang mereka kantongi menimbulkan sengketa dengan masyarakat adat. Wajar saja, orang- orang adat yang hidup secara tradisional tak banyak tahu tentang surat menyurat untuk melegitimasi dan melindungi hak mereka. Hak atas tanah yang merasa mereka miliki selama bertahun- tahun dan turun temurun dari nenek moyang mereka. Konflik perusahaan sawit dengan warga transmigran serta masyarakat adat atau kasus penembakan petani oleh aparat keamanan di Sumatera Selatan cukup menjadi contoh mewakili kasus lainnya.

Dan terkait masalah lingkungan hidup, indikasi kuat adanya pemalsuan pemetaan hutan, dimana hutan terdapat habitat satwa liar yang dilindungi dipetakan sebagai kawasan kritis sehingga perlu ditingkatkan daya gunanya dengan membukanya sebagai Hutan Tanaman Industri. Kasus yang cukup populer belakangan ini adalah konflik koorporasi perkebunan kelapa sawit dengan orangutan di Kalimantan.

Namun hal sulit yang ia temukan adalah bagaimana peran masyarakat sebagai korban dapat turut menentang hal ini. Yang terjadi justru mereka tergiur dan berbondong- bondong menjual tanah mereka dengan harga murah kepada para kapitalis, lalu mereka menjadi kuli di tanahnya sendiri. Yang lebih memberatkan lagi adalah adanya indikasi kuat para LSM yang juga menerima dana dari koorporasi perkebunan sawit yang menjadikan mereka tak lagi kritis. Tak lagi fokus pada tugasnya dan hanya menjadi budak untuk melaksanakan program pesanan funder.

Duduk di ruangan kantornya yang tak luas, Smith membuka file- file laporan investigasi yang ia terima seminggu yang lalu dari agennya. Seorang warga negara Belanda, John David yang diutusnya ke Indonesia untuk menemukan jawaban atas pertanyaan yang mengganggu fikirannya: Tak ada lagi gerakan- gerakan ekstrim di Palembang, aksi- aksi lebih banyak koorporatif, apakah ini berarti masalah sosial telah teratasi dengan baik? Rabu 5 Januari 2011, dari Malaysia John terbang menuju Palembang, menggunakan pesawat Lion Air, transit di Jakarta.

John sendiri sebenarnya adalah keturunan Indonesia asli. Ibunya berasal dari Brebes, bapaknya dari Jogjakarta. Nama aslinya Sujono Kartosuwiryo. Sejak usia 5 tahun, keluarganya bermigrasi ke Belanda, 20 tahun silam. John bekerja sebagai agen rahasia sebuah media di Australi, milik Smith. Terkait hal ini ia ditugaskan menyusup ke Laskar Musi, sebuah LSM yang bergerak di bidang sosial, berkantor pusat di Jakarta. Telah tujuh tahun berjalan ini Smith mensponsori organisasi itu. Menyusup ke Laskar Musi John beralasan untuk studi banding dari sebuah Universitas.

Laporan John David. Tanggal 5- 10 Januari 2011. Hal: aktivitas Laskar Musi di Palembang. . Sifat: Rahasia.

1. 5 Januari 2011 pukul 16.00 WIB saya tiba di Palembang, dijemput oleh tiga aktivis Laskar Musi di Bandara Sultan Baharudin II, menggunakan mobil Hilux 4×4 dengan plat polisi nomer BG 2541 UT. Mereka bernama Firman, Joko dan Bejo. Setengah jam dari bandara sampai ke kantor mereka di Jalan Kodim Blok 143B no 001.

2. Kantor mereka berukuran 4m x 10 meter, terdiri 3 ruang, satu ruang tamu, satu tempat tidur bersama, dan satu ruang kantor. Diruang tamu tampak sederhana, ada satu tivi, tanpa meja kursi, yang datang duduk lesehan saja, disamping ruangan tamu ada dapur kecil dengan satu kulkas, satu dispenser dan kompor gas serta kamar mandi. Pada dinding ruang tamu dihiasi foto- foto kegiatan. Terdapat tulisan di dekat televisi: No Smoking, namun seluruh orang di kantor ini gemar merokok dalam ruangan.

3. Masih di hari yang sama, sekitar pukul 20.00 WIB, saya memasuki sebuah ruangan dimana mereka, tiga orang masing- masing tampak menghadap laptop. Di pintu ruangan itu ada tertulis: Staf Only. Dua orang dari mereka tampak sedang membuka fesbuk, satu lainnya tampak sedang melihat foto- foto. Mendekati Firman yang lagi membuka file foto, ia mengatakan padaku, di Palembang ini terdapat beberapa anak yang menderita gizi buruk. Total berjumlah lima anak, ada di dusun Muara Bedil, Palung Lot, Suka Damai, Umbul Katrok dan Ulak Druwo. Ia juga mengatakan telah tiga kali menyurati Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial dalam kurun waktu 6 bulan ini.

4. Pukul 22.00, saya masuk ruang tidur mereka. Tak ada dipan. Hanya ada tiga kasur, satu lemari baju dan satu kipas angin. Dibalik pintu kamar terdapat beberapa baju kotor dan celana dalam menggantung. Pukul 01.00 saya terbangun. Seorang sudah tertidur tak jauh di samping saya, sementara dua lainnya tampaknya masih berada diruang staff. Pukul 04.00 saya kembali terbangun karena mendengar pintu kamar dibuka. Ada yang masuk, rupanya ia baru mau tidur.

5. 6 Januari 2011 Pukul tujuh pagi saya sudah bangun, namun belum beranjak dari kamar. Mereka tampak mulai bangun pukul 09.00. Mandi, memasak mie instant dan sarapan selesai hingga pukul 10.00. Selepas sarapan kami ngobrol santai. Piring- piring bekas hingga lima belas menit belum juga disingkirkan. Satu diantara mereka malah menggunakan piring kotornya sebagai asbak rokok. Pagi yang kesiangan itu, diruang yang bertuliskan No Smoking itu penuh asap rokok. Saya pun ikut merokok.

6. Pukul 10.30 mereka mengajak saya mengunjungi beberapa desa dimana ada anak penderita gizi buruk. Benar ada, kondisi mereka memprihatinkan. Kami juga melewati beberapa areal perkebunan kelapa sawit. Menurut informasi mereka, pemilik perkebunan ini adalah para pejabat dan aparat keamanan. Mereka juga mengatakan bahwa tak ada konpensasi sosial untuk masyarakat sekitar perkebunan. Hanya beberapa rupiah pernah disumbangkan langsung ke penderita gizi buruk.

7. 7 Januari 2012, masih dengan situasi dan suasana kantor yang sama dengan hari sebelumnya. Pukul 10.30 bersama mereka mengunjungi seorang penderita kusta berusia 50 tahun di dusun Ulak Druwo. Penderita mengatakan, dulu pernah ada cek up rutin dari pihak kesehatan sebulan sekali. Namun berjalan tiga bulan terhenti hingga tujuh bulan ini. Perjalanan melewati beberapa areal perkebunan sawit. Ada sekitar tujuh orang anak diperkirakan masih dibawah umur terlihat menjadi kuli angkat buah sawit.

8. 8 Januari 2011, Pukul 09.00, mereka tampak sibuk membersihkan kantor. Kabarnya Humas Laskar Musi dari kantor pusatnya di Jakarta akan datang. Dan benar, pukul 18.00 seorang perempuan bernama Devi dijemput mereka di bandara. Dua hari Devi ada di Palembang, rupanya dalam kepentingannya berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial. Selama Devi di Palembang, kantor tampak bersih dan rapi, tak satupun tampak berani merokok dalam ruangan. Mereka juga bangun pagi- pagi.

9. 9 Januari 2011 , berangkat dari kantor pukul 08.00, bersama tiga aktivis Laskar Musi dan Devi, didampingi dua orang pegawai dari Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial menuju Dusun Umbul Katrok, tujuan adalah mengevakuasi Sandi, ia adalah anak berumur 4 tahun yang menderita gizi buruk. Pukul 11.00 tiba di lokasi dan segera membawa penderita ke Rumah Sakit. Ia mendapatkan perawatan di ruang ICU.

10. 10 Januari 2011, pukul 12.00 Devi kembali ke Jakarta. Pukul 17.00 Sandi tak tertolong, ia meninggal dunia di Rumah Sakit.
Palembang, 12 Januari 2011. John David.

Oleh: Kertaningtyas

Satu pemikiran pada “Uang Sawit?

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s