Pangkas Birokrasi Pengobatan!

Salah satu kelemahan Program Layanan Pengobatan Gratis Sumatera Selatan adalah Birokrasi Rujukan yang panjang, sehingga memakan banyak waktu, fikiran, tenaga dan biaya serta penderitaan bagi yang sakit dan keluarganya. Contoh kasus: HERDIAN. Bocah gizi buruk asal Ogan Ilir yang akhirnya di vonis menderita Thalaesemia atau kelainan darah oleh RSUP MOHAMMAD HOESIN yang wajib transfusi darah satu bulan sekali untuk seumur hidupnya. Bahkan kini terkait dengan kondisinya yang makin parah Herdian mesti transfusi darah 3 minggu sekali.

Herdian tinggal di dusun yang terisolir. Tepatnya di dusun Ulak Baru atau dusun III desa Pulau Kabal kec. Indralaya Utara kab. Ogan Ilir- Sumatera Selatan. Jarak dusun Herdian dengan Rumah Sakit berkisar 50km. Alur proses Herdian memperoleh rujukan adalah sbb:

Hari 1: Mengurus rujukan ke Puskes Sungai Rambutan. Perlu waktu tersendiri karena jarak dusun dengan Puskes 25 km menempuh rawa- rawa dan Sungai.

Hari 2: Dari Puskes Sungai Rambutan ke Rumah Sakit Umum Daerah BARI. Dilanjutkan ke Dinas Kesehatan Kota Palembang. Ini menghabiskan waktu satu hari. Untuk kemudian menginap di Yayasan Puspa Indonesia.

Hari ke 3: Dari Yayasan Puspa Indonesia menuju Rumah Sakit Umum Palembang MOHAMAD HOESIN. Dan dengan segala penderitaannya bahwa Herdian dengan perut buncitnya, badan pucat dan kadang disertai demam ia HARUS turut serta dalam proses perolehan rujukan.

Berapa biaya yang mesti dikeluarkan keluarga Herdian?
Proses rujukan memakan waktu 3 hari dan perawatan di Rumah Sakit setidaknya 2 hari, memerlukan biaya transportasi dan makan minum rata- rata 500 ribu. Sedangkan keluarga Herdian tergolong warga TIDAK MAMPU. Beruntung terdapat sumbangsih dari fihak- fihak yg peduli: Komite Komunitas Demokrasi Ogan Ilir, Yayasan Puspa Indonesia, MEDIA DESA, BEM FKIP UNIVERSITAS SRIWIJAYA, dan beberapa aktivis sosial yg turut membantu kelancaran Herdian. Belum lagi jika stok dari PMI kosong. Berapa uang yang mesti dikeluarkan untuk membeli 2 kantong darah bagi Herdian? Dan lagi sebuah pertolongan, INDAH TJ dkk begitu peduli menggalang para pendonor darah.

Jangka waktu surat rujukan adalah SATU BULAN. Birokrasi tak peduli atas penderitaan dan biaya Herdian yang mesti berulang satu bulan sekali demi rujukan pengobatan gratis. Dan jika tanpa kepedulian para aktivis dan dermawan apa yang akan terjadi pada Herdian??

Herdian Positif dan HARUS transfusi darah per tiga minggu. Maka idealnya Herdian tak lagi urus ulang rujukan- rujukan dan semestinya tinggal ada SURAT KONTROL langsung ke RSUP MOHAMAD HOESIN. Maka hanya ada satu kata: PANGKAS BIROKRASI PENGOBATAN!

Dan ini bukan hanya untuk Herdian melainkan utk setiap warga Indonesia. Herdian hanyalah merupakan satu contoh kasus dari kasus- kasus lain tentang betapa penderitaan warga miskin memperoleh akses pengobatan. Bagaimana pendapat Anda? Salam Sehat!

Oleh: Kertaningtyas
Penulis adalah Siswa Sekolah Demokrasi Ogan Ilir.
Disampaikan dalam Diskusi Kampung Sekolah Demokrasi Ogan Ilir, 28/ 07, 2011 di desa Pulau Kabal.

Berita Terkait:
Sengketa Perbatasan Kesehatan Warga Tak Terurus
“Semua sudah saya serahkan pada Allah, mati dan hidup saya, hanya ini yang saya mampu,” ungkapan bernada pasrah dari Sobirin, lelaki berumur 55 tahun penderita Kusta, disampaikan saat ditemui di kediamannya di dusun Ulak Baru (25/11), sebuah dusun tertinggal di bantaran Sungai Belida anak Sungai Meriak- Sumatera Selatan. Belum pasti dusun ini masuk kabupaten mana, namun yang pasti dusun tersebut adalah satu titik dari beberapa desa yang menjadi korban konflik perbatasan Ogan Ilir- Muara Enim…

2 pemikiran pada “Pangkas Birokrasi Pengobatan!

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s