Rindu Ingin Menjitakmu

RINDU INGIN MENJITAKMU
17 September 2010 jam 14:09
Siang ini, saat sedang menikmati wedang kopi, tiba- tiba aku kangen si Anu. Kenal nggak sama si Anu? Ia seorang kawan, belum lama kenal. Orangnya sok akrab, banyak omong, dan.. Suka pamer kartu PERS yg ia kantongi. Bahkan tak ditanyapun ia nggak ada bosannya menunjukkan Surat Tugasnya.

Ia begitu bersemangat, membahas kasus- kasus para pejabat yg ia catat dalam berkas- berkas yg menumpuk di tasnya..
Ia pun suka bicara pasal- pasal, dan yg paling ia hafal adalah pasal 18 entah dari UU mana saya nggak tahu, bahwa setiap orang yg secara sengaja melakukan tindakan menghambat/ menghalangi tugas kontrol sosial akan dikenakan Pidana Penjara selama 2 tahun/ denda sebesar 500 juta rupiah.

Ia mengaku sebagai seorang Wartawan, namun sayang ia tak pernah tunjukkan berita hasil liputannya, namun hanya setumpuk konsep berita dalam tasnya yg semakin lusuh saja.

Semakin sedih saja mengamatinya, sebagai wartawan ternyata ia tak punya kamera, tak ada alat rekam. Utk segala sesuatunya ia hanya menggunakan sebuah Handphone produk Sebelum Masehi. Dan yg lebih mengejutkan lagi, ternyata ia tak punya Gaji.

Walah.. Media macam gimana ini. Bukan saya menghina, namun benarkah ada yg demikian? Saya nggak tahu pasti.

“Gaji kita itu di lapangan mas, kalo orang ingin berita tinggal pilih halaman utama atau halaman lain. Hitam putih atau berwarna? Semua ada tarifnya mas.” jelasnya.

“Kades kamu itu mas, banyak kasus., mana ngelawan dia sama kita, ha..ha..ha..,” ungkapnya bangga.

Tapi jangan salah.. Kita tidak memeras, tapi kalo mereka kasih uang, siapa yg nggak mau..,” lanjutnya.

Dan yg khas dari si Anu adalah: tolong mas, bantu untuk beli bensin, ATAU lagi bokek nih, minta rokok..

Bukan saya benci, tapi kasihan, si Anu bagaikan ATM berjalan yg selalu ingin diisi oleh Nasabahnya.

Bahkan kini ada rasa kangen, terselip di hati, sudah lama tak mendengar ia membual. Sudah tiga bulan ini ia tak datang ke rumah. Sakitkah ia, atau mungkin tak ada bensin utk jalan?

Terakhir bertemu, sore hari dalam sebuah percakapan. Ketika engkau sudah keterlaluan, hingga terpaksa sebuah PISTOL diletakkan di atas meja sebagai ganti dari wedang kopi. Engkau tampak pucat lalu pergi. Padahal itu pistol mainan kawan.. Kenapa engkau begitu bodoh?

Dimanakah kini engkau berada?
Dalam hati aku sudah lama tidak mengataimu sebagai Wartawan Bodrek.

Bahkan kini terlintas kangen dihatiku. Aku Rindu. Rindu ingin menjitakmu!
Salam Bodrek.:mrgreen:

Oleh: Kertaningtyas

2 pemikiran pada “Rindu Ingin Menjitakmu

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s