Arah Bantuan Dinsos Perlu Diperjelas

PULAU KABAL [Media Desa], Situasi sholat Idul Fitri di Masjid Al- Ikhlas desa Pulau Kabal- Indralaya Utara sedikit berbeda dengan tahun- tahun sebelumnya. Tampak masjid tersebut penuh hingga ke halaman. Sedangkan tahun- tahun sebelumnya mendapatkan kondisi seperti ini sulit. “Dampak dari konflik perbatasan [Ogan Ilir- Muara Enim, red] masyarakat terpecah belah, kedua kubu masing- masing membuat jamaah sholat sendiri- sendiri,” ungkap Sugeng Kepala Dusun.

Ustad Kornen tokoh agama setempat, ditemui di kediamannya menjelaskan,” Kami memang sengaja mengadakan penyusupan ke masyarakat pro Muara Enim pada malam takbir tanpa konfirmasi dulu kepada perangkat desa. Kami merasa prihatin saja, kalo tapal batas itu kan soal politik, biarlah jadi urusan pemerintah, jangan sampai masalah ini menjalar kepada konflik sosial, apalagi satu desa satu agama kok buat jamaah sholat sendiri- sendiri, lha wong masjid kita itu besar lho pak. Jadi malam itu kami menemui beberapa tokoh masyarakat yang Pro Muara Enim,” jelas Kornen, dan hasilnya Alhamdulillah pagi tadi masjid kita penuh dan semoga ini bisa untuk seterusnya, lanjutnya.

Masjid yang dimaksud Kornen terbilang baru, bahkan masih dalam proses pengerjaan. Adalah bantuan dari Dinas Sosial untuk beberapa desa rawan konflik sosial di Ogan Ilir termasuk desa Pulau Kabal sebesar 200 juta rupiah untuk pembangunan Masjid. Sebelumnya desa ini telah mendapatkan bantuan dari dinas serupa untuk pembangunan tugu di pusat desa.

Tujuan pembangunan Masjid tersebut selain untuk tempat ibadah adalah sarana pemersatu masyarakat yang sedang konflik. Masuk akal, namun tak semua warga tahu hal ini,” Bantuan yang nggak masuk akal, emang dengan membangun masjid akan selesai tuh masalah perbatasan, padune mung gawe dalan arep korupsi wae [padahal hanya cari jalan untuk korup saja- red],” ungkap seorang warga setempat berinisial AR. “Apa pula maksud buat tugu, masa segitu saja habis puluhan juta, aneh,” lanjutnya.

Pendapat AR adalah fenomena pemikiran sebagian besar warga desa dan nyatanya dari Dinas Sosial hanya mengucurkan dana saja tanpa mengadakan penyuluhan. Untung saja, terdapat warga desa yang kreatif, seperti yang dilakukan oleh Ustad Kornen dan kawan- kawan. Mereka mengadakan penyuluhan sosial dengan cara mereka sendiri.

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s