Eyang Suwadji: Wani Ngalah Luhur Pungkasane

“Dedalane guna lawan yekti, kudu andhap asor, wani ngalah luhur Pungkasane, gampang den simpangi, ana catur mungkur”
Sebuah kidung yang seringkali beliau cuplik saat menjabarkan mengenai tindak kekerasan. Guru yang luar biasa dalam hal kesabaran, beliau adalah Eyang Suwadji. Bukan karena beliau adalah orangtua saya sendiri, namun dalam kenyataannya semenjak saya kecil belum pernah merasakan tindak kekerasan dari beliau. Beliau berpedoman: wani ngalah luhur Pungkasane, ana catur mungkur, berani mengalah akan luhur di kemudian hari dan jangan bermusuhan. Dan faktanya, beliau pernah menuturkan sebuah kejadian…
Ketika beliau masih muda, datanglah seseorang yg salah paham membawa sebilah golok sembari mengancam, tak sesuatupun yg dilakukan beliau ketika itu, hanya diam dan mendengarkan segala bentuk makian. Apa yang terjadi? Tampaklah seseorang itu sebagai manusia yg sangat kecil, bahkan semua hal disekitar beliau menjadi sangat kecil, mirip sebuah miniatur. Hingga seseorang itu pergi tanpa sedikitpun menyentuh Eyang. Dan esoknya seseorang itu datang lagi bersama keluarganya dan meminta maaf atas kekhilafannya..
Eyang Suwadji, pribadi yang sederhana, tampak luar seperti orang awam yang tak berkemampuan apapun. Namun kini puluhan siswa Sanggar dan bahkan kelak ratusan , telah mengenal suatu tehnik olah nafas khas Sanggar Silaturahmi Pangastuti: ‘olah nafas Nengning’
Olah nafas ini tercipta dari aspirasi ajaran beliau tentang kesabaran hidup yang diajarkan ke saya semenjak kecil.
>>Tehnik Olah Nafas Nengning

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s